• Hubungi kami: 0853- xxx- xxx55
  • ict@uniera.ac.id

IbM Penulisan Sejarah Jemaat Ikhtus Wari dan Jemaat Tiberias Wari Ino

IbM Penulisan Sejarah Jemaat Ikhtus Wari dan Jemaat Tiberias Wari Ino

Jemaat Ikhtus Wari dan Tiberias Wari Ino adalah bagian dari jemaat-jemaat Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Sebagaimana jemaat pada umumnya, bahwa kerinduan untuk mewariskan sejarah jemaat kepada generasi penerus selalu menemui jalan buntu. Hal itu terutama karena kerinduan menuliskan sejarah jemaat belum didukung dengan kemampuan untuk menulis sejarah. Semangat untuk menulis sejarah gereja dengan demikian perlu ditopang dengan mengasah kemampuan menulis sejarah, sehingga dengan alasan itu pula Tim IbM bagi Jemaat Ikhtus Wari dan Jemaat Tiberias Wari Ino melakukan pengabdian kepada kedua mitra tahun 2017.
Tim IbM bersama mitra saling berpartisipasi untuk mencapai target luaran yang dicita-citakan. Secara keseluruhan langkah-langkah pengabdian dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu: Pertama, sebagai tahap awal atau persiapan; Kedua, pengumpulan data, verifikasi, dam interpretasi; Ketiga, historiografi dan publikasi. Sehingga secara metodologis, pelaksanaan pengabdian meggunakan pendekatan partisipatoris dan sejarah untuk penulisan sejarah jemaat. Penggunaan pendekatan ini telah menghasilkan sejarah jemaat Ikhtus Wari dan Jemaat Tiberias Wari Ino serta artikel hasil pengabdian yang telah dikirim ke jurnal nasional.
Pengalaman pengabdian mengajarkan bahwa penelusuran sejarah selalu penting untuk dilakukan, termasuk sejarah gereja sebagaimana yang dikerjakan bersama kedua mitra pengabdian Ikhtus Wari dan Tiberias Wari Ino. Pentingnya pendokumentasian sejarah selain memeberi arah pada generasi mendatang, juga penting bagi gereja itu sendiri untuk mewariskan dokumen autentik kepada siapa saja yang mau melakukan penafsiran terhadap sumber-sumber sejarah yang tersedia. Tentu penulisan sejarah bergantung pada data yang tersedia dan kemampuan mitra menerjemahkan data-data sejarah. Sebagaimana yang telah dideskripsikan, bahwa sejarah gereja Ikhtus dan Tiberias diceritakan kembali dalam bentuk tulisan — dengan segala keterbatasannya — telah memberi gambaran perkembangan gereja yang selalu naik turun. Sebab perjalanan gereja tidak pernah sepi dari masalah, termasuk perpecahan dalam jemaat. Sehingga dengan belajar dari sejarah macam itulah, perjalanan ke depan selalu diantisipasi untuk meminimalisir konflik-konflik internal gereja yang dapat berujung pada perpecahan.

Sejarah memang tidak identik dengan menghafal tanggal, bulan, dan tahun tetapi sejarah tanpa kepastian data tanggal bulan dan tahun juga menyulitkan proses pemaknaan. Sebab tiap peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu memberi gambaran pergumulan macam mana yang lagi dialami oleh jemaat. Seperti halnya menggantikan nama Imanuel menjadi Ikhtus yang menggambarkan dinamika perkembangan jemaat dan bagaimana warga jemaat memberi makna pada proses sejarah yang berlangsung itu. Sehingga dengan belajar sejarah, mitra diajak untuk melatih kemampuan mendokumentasikan sekaligus menuliskan sejarahnya sendiri, karena tiap generasi menulis sejarahnya sendiri. (S. Botara)

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *